Perkembangan sekolah Islam di Turki membuat marah pendokong sekular

Tahun ini, hampir satu juta pelajar telah masuk sekolah Islam, mencerminkan kebangkitan sistem pendidikan Islam di Turki. Pejabat pendidikan Turki juga telah mengambil langkah untuk membuat tempat yang lebih luas bagi sekolah Imam Hatip. Namun, hal itu telah membuat para sekularis marah.

“Kami menentang pengelolaan pendidikan dengan aturan agama,” kata Ilknur Birol, juru bicara wanita dari “Don’t Touch My School”, sebuah grup yang terdiri dari para orang tua yang marah, kepada Reuters pada Selasa (2/12/2014), lansir OnIslam.

Pada tahun ajaran 2014-2015, sekitar satu juta pelajar telah terdaftar untuk masuk di sekolah-sekolah Imam Hatip, meningkat jumlahnya dari hanya 65.000 pada tahun 2002 ketika Presiden Recep Tayyip Erdogan baru saja memimpin.

Sekolah tersebut memisahkan antara murid laki-laki dan perempuan, dan memberikan waktu 13 jam per minggu untuk materi Islam di atas kurikulum umum, meliputi bahasa Arab, ilmu Al-Qur’an, dan sejarah hidup Nabi Muhammad (shalallahu ‘alaihi wa sallam).

Karena dilema terkait tempat yang lebih luas untuk sekolah Imam Hatip, para pejabat pendidikan Turki telah mengambil alih beberapa bagian sekolah dengan gedung-gedung baru untuk menampung pelajar.

Langkah tersebut telah ditentang oleh para orangtua murid yang menghendaki pendidikan sekuler bagi anak-anak mereka.

Fiiliz Gurlul, orangtua murid di Kadir Rezan Has di Istanbul, memprotes pengalihan fungsi salah satu bangunan sekolah untuk dijadikan fasilitas imam hatip.

Membantah kritikan para orangtua itu, pejabat sekolah imam hatip mengkonfirmasi bahwa perubahan itu dibuat berdasarkan tuntutan rakyat.

Huseyin Korkut, kepala imam alumni hatip asosiasi, berbicara kepada Reuters, mengatakan ada permintaan yang kuat untuk sekolah imam hatip, menurut survei yang dibuat di Kayseri, Konya dan Erzurum provinsi.

Ia mengatakan, badan itu mendesak pemerintah untuk melakukan survei nasional.

Sebagai Presiden, Erdogan sangat mendukung pendidikan yang membangun rohani dan akhlak.

“Ketika tidak ada hal yang namanya budaya agama dan pendidikan akhlak, masalah-masalah sosial yang serius seperti kecanduan obat-obatan terlarang dan rasisme akan mengisi kekosongan,” kata Erdogan kepada simposium terkait kebijakan obat-obatan dan kesehatan publik pada awal tahun ini. (siraaj/arrahmah.com)
0